Keep Being You [One Shot]

image

Cerita pasaran, EYD masih tahap belajar. Jadi, maaf kalau cerita maupun bahasanya kurang dimengerti. Selamat membaca!

.

Tentang kegelisahan Laras akan romansanya bersama Bisma yang baru saja dimulai sejak satu minggu yang lalu.

.

Keep Being You

.
.

“Ya…, kamu memang pantas bahagia dan senang memiliki kekasih seperti Bisma Si Bintang Sekolah. Banyak yang menginginkannya, termasuk aku.Tapi bagaimana dengan Bisma sendiri? Apa dia bahagia memiliki kekasih seperti kamu; seorang gadis biasa yang kurang pergaulan, tidak menarik meskipun nilai akademikmu diatas rata-rata. Tanyakan juga pada dirimu sendiri, apa kamu sudah menjadi seorang gadis yang Bisma inginkan? Pikirkanlah perasaan Bisma juga.” Ucapan Regina siang tadi terus memenuhi pikiran Laras. Bahkan sampai sekarangpun, ucapan itu seakan menguasai pikirannya sampai ia tak bisa tidur, malam ini. Padahal ini sudah hampir jam 1 dini hari.

“Arrgh…, sial!” Laras membanting bantal yang menutupi wajahnya ke sembarang tempat dengan kesal. Sungguh, ucapan Regina kemarin siang membuatnya tidak tenang.

Bahagiakah Bisma setelah ia menjadi kekasih Laras sejak satu minggu yang lalu?

Laras tentu saja merasa sangat bahagia karena ia menjadi kekasih seorang Bintang Sekolah yang tak hanya tampan, materi diatas rata-rata, tapi juga berprestasi. Tapi, bukan itu yang membuatnya bahagia. Semenjak mereka berkenalan dua tahun yang lalu saat mereka sama-sama menjadi murid baru di Sekolah. Sesuatu yang ada pada diri Bisma yang selalu membuatnya merasa nyaman, dan itulah yang membuatnya jatuh, dan tidak mau berada jauh dengannya.

Dan kembali pertanyaan lain datang, apakah Bisma juga nyaman dengan hubungan mereka?

Laras melirik ponsel pintarnya yang tergeletak sembarang diatas tempat tidurnya. Ia mengambilnya lalu menyentuh layar ponsel itu untuk mencari nomor kontak milik Bisma. Apa sebaiknya ia tanyakan langsung pada Bisma? Tanyakan apa? Tentang kenyamanan hubungan mereka berdua? Yang benar saja! Laras mendengus kesal karena tidak tahu harus berbuat apa sekarang.

Laras mengerjap sedikit kaget saat layar ponselnya menyala, menampilkan foto Bisma yang sedang tersenyum dengan pemberitahuan “Bisma: incoming call” pada layarnya. Sontak Laras terduduk kaget, jantungnya bekerja lebih cepat sekarang. Ini sudah jam 1 malam, ada apa Bisma menelponnya?

Dengan gugup dan berdebar-debar, Laras menggeser layar bergambar telpon berwarna hijau untuk menerima panggilan itu. “Halo…,”

“Kamu belum tidur?“ Laras bisa menangkap nada Bicara Bisma yang sedikit terkejut.

“B-belum, aku… tidak bisa tidur.” Jawab Laras jujur.

“Kenapa? Ada yang mengganggu pikiranmu?“

“Tidak-tidak, tidak ada.” Jawab Laras terlampau cepat dan membuatnya menyesal sekarang. Bisa ia tebak saat ini Bisma pasti sedang mengernyit dan menebak bahwa ucapannya barusan bohong.

“Sebaiknya kamu jujur saja, apa yang membuat kamu tidak bisa tidur? Ini sudah jam satu malam, kamu bisa terlambat masuk Sekolah,”

Laras memutar bola matanya sebal. “Hoi, lihatlah siapa yang bicara. Kamu sendiri kenapa masih belum tidur?”

Bisma terkikik pelan sebelum menjawab, “kamu lupa? Aku punya penyakit insomnia.”

Laras mengerjap gugup. Kenapa ia bisa lupa? “Aa~hahah aku lupa masalah itu.” Sahut Laras tertawa garing.

“Jadi, apa yang kamu pikirkan?” Bisma mengulang pertanyaannya lagi.

Laras mengerjap, menghela napas panjang sebelum kembali berbicara serius dengan Bisma. “Sebenarnya…,” ucap Laras menggantung. Ia sedikit ragu untuk berbicara sekarang.

“Hm?”

“Aku ingin menanyakan beberapa hal padamu,”

“Apa?”

“Apa kamu bahagia dengan hubungan kita?” Tanya Laras harap-harap cemas.

Bisma terdiam untuk beberapa detik sebelum tawanya pecah, membuat Laras menjauhkan ponselnya sejenak dari telinga. Kenapa Bisma malah tertawa? Apanya yang lucu? Ia justru sedang gelisah menunggu jawaban Bisma. “Kenapa malah tertawa?”

Bisma mendehem untuk menghentikan tawanya. “Maaf. Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?”

Ck, jawab saja, iya atau tidak?” Desis Laras sedikit kesal. “Hoi, aku serius!” Tambah Laras saat mendengar Bisma kembali terkikik-kikik.

“Jawab dulu, kenapa kamu tiba-tiba bertanya hal itu padaku?”

Laras menghela napas panjang. “Baiklah, anggap saja aku tidak pernah menanyakan hal itu padamu.” Ucap Laras ketus disambut kikikan kecil Bisma yang membuat Laras mengernyit lagi. Memangnya ada yang lucu? Kenapa pemuda ini terus tertawa?

Tak lama, Bisma kembali bersuara dengan nada yang aneh. “Tidak.”

Laras membeku mendengar jawaban Bisma. Pemuda itu tidak bahagia dengan hubungan mereka saat ini?

“Tidak mungkin aku tidak bahagia.” Tanpa Laras ketahui, Bisma tersenyum lembut. Tidak bisa dipungkiri, rasa lega menjalar keseluruh tubuhnya kala kalimat itu terdengar ditelinganya. “Harusnya kamu tahu hal itu. Kalau aku tidak bahagia, mungkin aku sudah memutuskan hubungan kita jauh-jauh hari.”

“Aku Cuma takut,”

“Takut?”

“Iya, kamu tahu? Takut kamu malu memiliki seorang kekasih yang samma sekali tidak menarik, tidak populer, seperti aku,”

Bisma tidak menjawab. Ia menunggu kalimat Laras selanjutnya.

“Sebenarnya, aku mulai ragu apakah aku pantas untuk kamu atau tidak,” gadis itu terkekeh, “ya… tentu saja tidak. Aku benar, kan?”

1 detik

2 detik

Detik berikutnya

“Bisma? Kamu masih disana?” Tanya Laras mulai merasa kawatir karena tidak mendapat respon apapun dari Bisma. “Halo?” Ia menatap layar ponselnya cepat. Masih terhubung, tapi kemana Bisma? Apa dia marah karena ucapannya barusan?

“Laras,”

Laras terkesiap saat mendengar suara Bisma lagi di telpon. Dengan segera Laras menyahutinya. “Tolong keluar sebentar, aku ingin bertemu.”

Bisma ada didepan rumahnya? “Kamu…,”

“Iya, jangan matikan sambungan telponnya.” Tanpa basa-basi Laras segera keluar dari dalam rumahnya yang sederhana. Jarak rumah mereka cukup dekat, Hanya terhalang oleh beberapa rumah saja. Jadi tidak heran kalau Bisma bisa dengan cepat berada didepan rumah gadis itu.

Laras membuka pintu pagar besi setinggi tubuhnya yang mengelilingi halaman kecil depan rumahnya, dan benar. Bisma sudah berdiri 2 meter dari posisi Laras sekarang dengan ponsel yang masih tersambung dengan Laras, menempel pada telinganya. Pemuda itu tersenyum lembut lalu berkata. “Itu sama sekali tidak benar.”

Laras tertegun.

“Aku sudah melihatnya, dan aku tahu; tahu bagaimana sifatmu, kepribadianmu, sikap kamu terhadap sekeliling, aku memperhatikannya. Dan aku tahu kamu pantas, pantas menjadi diri kamu dengan apa adanya kamu dan aku menyukainya. Kamu pantas dimataku. Karena itulah, aku meminta kamu agar kamu mau seterusnya berada disampingku karena aku menyukai keberadaan kamu disekelilingku.” Ucap Bisma lembut penuh pengertian, membuat Laras yang mendengar jelas suaranya pada speaker ponselnya terdiam sementara tangan kirinya meremas ujung baju tidur yang ia kenakan. Perasaannya campur aduk saat ini.

“Hanya orang bodoh yang akan malu jika memiliki kekasih yang pandai, menarik, baik hati, cantik, dan pengertian seperti kamu. Iya…, dari segi materi mungkin kamu dan aku memiliki perbandingan yang sedikit jauh, tapi apa peduliku? Bukankah dengan seperti ini, kamu tidak akan kaget kalau suatu saat nanti saat kita sudah berkeluarga, aku jatuh bangkrut dan jadi pengangguran. Bukan begitu?”

Bisma nampak terkekeh. “Apa kamu pikir orang yang populer, bergaulnya pun harus dengan orang yang populer juga? Tentu saja tidak.”

Laras berusaha untuk tidak berlari lalu berhambur memeluk kekasihnya itu saat ini juga. Pemuda itu selalu saja mengeluarkan humor yang tidak lucu namun selalu berhasil membuatnya tertawa sekaligus terharu. Bolehkah ia berlari dan memeluknya sekarang?

“Hei, setidaknya katakan sesuatu padaku, jangan membuatku kawatir.” Ucap Bisma dengan nada kesal yang dibuat-buat.

“Kamu sampai berpikir sejauh itu?” Tanya Laras yang kemudian terisak, tidak mampu menahan air matanya karena terharu.

Bisma terkikik. “Tentu saja. Masa depan memang harus direncanakan jauh-jauh hari. Hei, tidak usah menangis, besok pagi matamu bisa bengkak.” Ucap Bisma dengan humor garingnya—yang sebenarnya menyimpan suatu perhatian dan rasa kawatir—yang langsung disambut oleh Laras yang kini memeluk leher Bisma erat. Bisma tersenyum, membalas pelukan sang kekasih penuh sayang.

“Tetaplah seperti ini. Jangan berpikir atau merasa kamu tidak pantas, lalu kamu mengubah kepribadian kamu agar kamu cukup pantas untuk bersama-sama denganku. Tidak.” Bisma melepaskan pelukannya, menatap wajah Laras yang sudah basah karena air mata. “Aku akan sedih kalau kamu melakukan hal itu. Jangan menangis,“ kedua ibu jarinya menghapus jejak air mata di pipi gadis itu.

Tidak bisa dipungkiri, perasaan hangat menjalar keseluruh tubuh Laras. Ia mengamit kedua tangan Bisma yang ada dipipinya dan menggenggamnya erat. “Maafkan aku, aku hanya takut…,”

Bisma kembali tersenyum. “Jangan dengarkan ucapan negatif orang. Mereka hanya iri dengan apa yang kamu miliki, hm?”

Laras tersenyum lalu mengangguk kecil. Namun, senyuman itu perlahan pudar membuat Bisma yang melihatnya jadi kawatir. “Tapi…, penampilanku benar-benar tidak menarik, kan?”

Bisma terdiam beberapa saat lalu menghela napas panjang. “Jawab dengan jujur. Kamu suka make up?” Laras menggeleng pelan.

“sepatu hak tinggi?” Laras menggeleng lagi.

“Me-make over rambut?”

“Tidak,”

“Kalau begitu jangan lakukan. Lagipula, aku lebih suka penampilan kamu yang biasa saja.” Pemuda itu mengerling ke samping. “Karena kamu berbeda dengan mereka—para gadis—yang selalu ingin tampil menarik dimata para laki-laki.”

Laras kembali tersenyum membuat Bisma juga ikut tersenyum. “Tetaplah menjadi kamu, keep being you…

.
.
.
FIN
.
.
.
SongFict. Terinspirasi dari lagu keep being you milik Isyana Sarasvati. (Agak kurang nyambung sih menurut gua mah. Judul gimana, isi kumaha. Kembali lagi pada pembacanya menilainya gimana)

Krisan-nya, boleh. ^^7

Sungai | [One Shot]

Fict ini saya dedikasikan untuk teteh dan juga echot yang lagi ulang tahun di bulan agustus ini. Sebelumnya, aku ucapin barokalloh. Semoga diumur Teteh yang ke 21 dan Echot yang ke 19, kalian sahabatku yang baik diberikan keberkahan, keridloan dari Alloh. Yuk, kita sama-sama memperbaiki diri di waktu kita yang semakin menipis ini. Yo! Salam sukses buat kalian, juga Kita. Aku menyayangi kalian. *Hugs*

Warning! Absurd, typo, etc.

★★★

Dia adalah seorang remaja. Remaja yang begitu menyukai sungai. Setiap hari, ia selalu menyempatkan diri untuk pergi ke sungai yang letaknya berada di bawah tepi jalanan desa; sekedar untuk menyentuh aliran airnya yang ditumbuhi rumput-rumput yang entah apa namanya, ia juga tak tahu.

Yang ia tahu, sungai itu terlihat indah dan menyejukkan mata. Tidak ada sampah terapung atau tersumbat dipermukaan air sungai yang cukup jernih itu.

Duduk diatas rumput yang tumbuh disekitar sungai, dibawah sebuah pohon willow sambil menghirup pelan udara sejuk pagi hari, selalu ia lakukan setiap hari disana sebelum ia berangkat ke Sekolah. Sambil menyaksikan matahati terbit dibalik dua bukit di seberang sungai.

Sungai.

Sebuah kata yang sebelumnya belum pernah ada atau datang dipikirannya, setidaknya sebelum ia bertemu dengannya. Seorang gadis yang membuatnya kenal dan ikut menyukai sungai, seperti gadis itu.

“Ikutlah denganku. Aku mau mengajakmu ke suatu tempat, kamu pasti takjub dan menyukainya!” Dengan ceria, gadis yang merupakan tetangga baru di Komplek perumahannya saat itu mengetuk jendela kamar, menyuruhnya untuk keluar rumah dan segera menarik tangannya, membawanya ke suatu direksi, di pagi buta.

“Kita mau kemana? Ini masih pagi, ibuku pasti khawatir karena anaknya tidak ada di atas tempat tidur. Aku mau pulang.” Katanya sangsi.

“Ayolah, kamu pasti akan ketagihan kalau sudah melihat apa yang kemarin aku lihat.” Sahut gadis itu tanpa menolehkan wajahnya pada remaja laki-laki yang baru ia kenal tiga hari yang lalu.

“Kita bisa melihatnya nanti siang, tidak harus sepagi ini. Bahkan ayam pun belum berkokok.” Ia masih sangsi.

“Justru karena itu, aku mengajakmu pagi sekali.” Kali ini, gadis itu menolehkan kepalanya sambil tersenyum. “Hati-hati, jalanan ini menurun. Kamu bisa jatuh nanti.” Lanjutnya memperingatkan.

Remaja berumur 14 tahun itu menekuk dahinya dalam setelah ia tahu apa yang akan—atau sudah—diperlihatkan gadis itu padanya. “Ini dia!” Gadis itu menyeru senang. Remaja itu bisa merasakan tangan dingin gadis itu terlepas dari pergelangan tangannya.

Dihadapannya saat ini, terdapat sebuah sungai yang mengalir tenang ke hulu, dan sebuah pohon willow yang tumbuh tak jauh dari sungai itu. Matanya menengadah ke kanan atas, itu jalanan yang biasa ia lewati untuk pergi ke Sekolah. Dan bukit itu juga ia sering melihatnya. Bahkan sungai ini. Tidak ada sesuatu yang menakjubkan disini. Gadis itu pembohong.

“Tidak ada yang menakjubkan disini. Ini hanya sungai biasa. Kamu mau membohongiku, ya?” Remaja itu memberikan tatapan selidik.

Gadis itu menggelengkan kepalanya kasar. “Tidak. Aku tidak bohong. Tunggu sebentar lagi, maka kamu akan lihat sesuatu yang sangat indah di sini.”

“Hn. Aku bahkan sering melewati sungai ini dan tidak menemukan sesuatu yang kamu bilang indah dan menakjubkan.”

Gadis itu menoleh lagi dan mendekatinya. “Benarkah? Tapi aku melihatnya kemarin pagi. Disini, kamulah yang berbohong.” Mulutnya menekuk sementara tangannya dilipat didepan dada dan memalingkan wajahnya.

“Aku tidak bohong. Aku sering melewati sungai ini.” Gadis itu kembali menggelengkan kepalanya. “Oo~ baiklah perlihatkan padaku. Kalau sesuatu yang kamu bilang  indah dan menakjubkan itu ternyata tidak sesuai kenyataan, maka kamulah yang bohong dan kamu harus mendapatkan hukuman.”

Gadis itu mendelik. “Baik! Kalau aku benar, kamu yang dihukum.”

“Oke, siapa takut.”

Dan, cahaya kuning bersemu orange mulai terlihat di ufuk timur, memantulkan cahayanya pada awan-awan tebal di dasar bukit lalu secara perlahan cahayanya mulai tampak dan menimpa apa saja yang bisa ditimpa oleh cahayanya yang menyilaukan nan indah.

Sunrise.

Remaja itu mengangkat wajah, matanya membulat dan mulutnya sedikit terbuka saat melihat matahari terbit jauh diseberang sana. Benar-benar indah, tenang, dan menghangatkan. Ia benar-benar terpesona.

“Matahari terbit! Itu yang ingin aku tunjukkan padamu. Indah, bukan?” Tanya gadis itu.

“Ya… sangat indah.” Balasnya menggumam, namun masih terdengar jelas ditelinga gadis itu. Ia masih tenggelam dalam pesona yang baru pertama kali ia lihat.

Gadis itu mengulum senyum dan berjongkok di tepi sungai sementara tangannya mengayun di atas permukaan air, membuat air yang mengalir itu beriak dan memantulkan cahaya matahari yang menimpanya. “Aku sangat suka pada sungai. Mengalir tenang namun juga terkadang kasar dan menakutkan. Tergantung pada aliran sungai yang mengalirkan airnnya kesini.”

Remaja itu menoleh mendengar gadis itu berkata, mengabaikan sunrise yang baru pertama kali ia lihat dan sangat indah itu.

“Kamu tahu? Sungai yang tenang selalu bisa membuatku juga ikut tenang dan terasa damai. Begitupun sungai yang alirannya deras. Aku selalu merasa bersemangat setelah melihatnya.”

“Jadi karena itu kamu menyukai sungai?” Ia menanggapi ungkapan gadis itu.

“Iya! Dan semakin suka saat sungai, memantulkan cahaya matahari terbit di pagi hari, juga matahari terbenam di sore hari. Indah, tenang, damai, dan bersemangat!“ Gadis itu berdiri dan tersenyum kearahnya.

Remaja itu nampak takjub dan setuju dengan penjelasan gadis itu. Terbukti dengan senyuman yang begitu tulus terpancar dari bibir yang hampir selalu tak terlihat senyum. “Aku juga suka. Ini pertama kalinya aku melihat sunrise di tempat ini. Ternyata memang sangat indah dan menakjubkan. Aku akan kesini setiap hari, melihat matahari terbit.” Ia tersenyum, mengangkat tangannya ke atas kepala gadis yang tingginya lebih pendek darinya itu dan mengacak-acak rambutnya gemas. “Terimakasih sudah mengajakku kesini,”

Gadis itu ikut tersenyum. “Ha-i! Jadi, kamu siap untuk dihukum?” Tanyanya tersenyum jahil.

Bibirnya yang semula menekuk ke atas berganti kebawah. “Apa?” Pekiknya tidak percaya.

“Hahaha… aku tidak bohong dan kamu sudah berjanji.”

Ia menepuk dahi. “Baiklah, kau mau aku berbuat apa?”

“Berikan sesuatu yang berharga yang kamu miliki padaku.”

“Apa? Apa maksudmu?”

∞∞∞

Pagi itu, terdengar bangku berdebum keras beberapa kali habis ditendang oleh seseorang. Di kelas 2-E, salah satu kelas di Sekolah Menengah, seorang gadis tengah mengamuk. Berteriak meminta pengakuan dari teman-temannya yang ada didalam kelas.

“Dasar pengecut! Katakan siapa yang berani memukuli temanku!”

Semua murid yang ada didalam kelas nampak tersentak saat kembali gadis itu menendang ujung bangkunya sampai berpindah haluan. Mereka terdiam, menatap gadis itu horor.

“Katakan!”

Tangan kanannya yang menggenggam sebuah penghapus papan tulis mengepal kesal karena tidak ada yang menjawab pertanyaannya. “Aku tahu siapa pelakunya. Aku hanya ingin kejujuran dan pengakuan.Jawab atau kulemparkan penghapus ini ke wajahmu!”

“Hentikan!”

Seorang remaja laki-laki yang memiliki lebam disekitar mulut dan tulang pipinya memekik, menghentikan pergerakan gadis yang hendak melayangkan penghapus ditangannya.

Gadis itu menoleh kesal karena aksinya terhenti.

“Hentikan. Aku tidak apa-apa, sudah biarkan saja.” Bisiknya sambil menurunkan tangannya yang terangkat.

“Tidak bisa!” Gadis itu menghempaskan tangannya. “Ini sudah keterlaluan. Mereka memukuli kamu hanya karena kamu tidak sengaja meludah didepan mereka,”

“Kamu hanya akan menambah masalah lagi. Sudah, ikut aku!” Ia menarik lengan gadis itu, membawanya keluar dari kelas yang hanya akan menertawakan kekonyolan yang dilakukan gadis itu—mencoba membela rakyat biasa sepertinya dihadapan anak-anak para pejabat yang memang secara tidak sengaja ia meludah dihadapan mereka.

“Lepaskan aku! Mereka harus diberi pelajaran!” Gadis itu berusaha berontak.

“Hei!” Remaja itu membentaknya dan sontak gadis itu terdiam karena takut dengan sorot matanya yang seolah mengintimidasinya. Tatapannya kemudian melemah, lalu ia menghela napas panjang. “Kamu bisa lihat? Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku masih hidup,” ucapnya pelan namun penuh mengertian.

“Tapi mereka—”

“Sudahlah. Anggap saja ini hukuman karena aku tidak hati-hati,”

Gadis itu menekuk mulutnya sangsi, namun mendengar penuturan teman laki-lakinya itu akhirnya ia hanya pasrahnya. Menelan bulat-bulat kekesalannya terhadap orang-orang tidak punya pikiran itu. “Hmm.. kalau begitu, kamu saja yang aku hukum.” Gadis itu tersenyum jahil.

“Apa? Memangnya aku salah apa?”

“Karena ulahmu, aku jadi kesal dan marah karena tidak bisa membalas mereka yang memukulimu dan karena ulahmu juga aku jadi gadis penurut yang selalu menuruti perkataanmu.”

“Apa? Itu bukan masalahku, itu masalahmu.”

“Masalahmu juga. Ayo! Kita laksanakan hukuman itu.”

∞∞∞

“Kamu gila? Kita bisa dimarahi kepala sekolah kalau ketahuan bolos seperti ini.”

“Sekali tidak jadi masalah, kan? Lagipula besok aku tidak akan sekolah lagi.” Ucapan gadis itu membuat gerakan mengendap-endap ke belakang sekolahnya terhenti. Tidak akan sekolah lagi?

“Memangnya kamu mau kemana?”

“Aku akan pindah rumah, dan pindah sekolah. Lagi.”

“Lagi? Apa maksudmu?”

“Sudahlah, ikuti saja aku. Aku ingin menghabiskan sisa waktuku di sini dengan bermain ke taman bermain bersamamu.”

Hatinya mencelos. Gadis yang sudah menjadi sahabat baiknya ini sebentar akan pergi meninggalkannya. Perasaan tidak rela pun datang pada hatinya. “Harus, ya?”

“Iya,”

“Kamu tidak sedih akan berpisah denganku?”

Gadis itu menghentikan pergerakannya lalu menoleh pelan. “Bagiku itu sudah biasa. Sedih karena kembali kehilangan teman sudah menjadi makanan setiap tahunnya.”

Ia kembali mencelos.

“Ayo, cepat! Aku akan berangkat nanti sore,” ucapnya kemudian kembali menarik tangan remaja laki-laki itu agar lebih cepat. Tanpa ia sadari, hati gadis itu merasa tidak enak. Gadis itu merasa tidak rela dan tidak mau perpisahan itu terjadi.

.

Dan gadis itu menepati ucapannya. Setelah mereka berlama-lama bermain di taman bermain, gadis itu tidak pernah kembali muncul dihadapannya. Sampai hari ini, setelah lima tahun berlalu.

Remaja yang kini sudah menjadi seorang pemuda berumur 19 tahun itu masih setia berkunjung ke tempat favoritnya bersama gadis kecil itu. Atau mungkin, sekarang gadis itu sudah menjadi gadis dewasa.

Bibirnya tersungging ketika pikirannya membayangkan penampilannya sekarang yang mungkin terlihat dewasa, wajahnya yang bertambah cantik, dan sifatnya yang… oh, ia tidak tahu sifat gadis itu sekarang seperti apa.

Ia berharap, bisa bertemu gadis sungai itu. Tidak. Maksudnya… gadis yang memiliki kriteria seperti sungai. Mengalir apa adanya, kadang tenang, kadang juga keras dan berisik, serta memiliki sebuah rahasia yang sulit untuk diketahui. Seperti sungai. Airnya yang terkadang bening bisa berubah warna menjadi semu yang menutupi segala hal yang ada didalam sungai itu.

Yah, ia sangat berharap bisa bertemu kembali. Karena sejak itu, ia sudah jatuh hati pada sungai itu. Sungai yang membuat hatinya tenang, damai, bersemangat, dan tersenyum karena keindahannya.
.
.
.

FIN

.
.
Kyaaaaa! Fict apaan ini? Ya ampun… semoga anda yang membacanya tidak merasa mual, pusing, pengen bersin atau hal-hal buruk lainnya. Aduh, ini asli ngarang abis dah. Absurd banget kan ceritanya… nggak ada nama, sudut pandangnya pun tidak jelas. Ah! Hahaha ga jelas pokonya. Aduh, maap echot, tehbii. Maaf… hehe cuma bisa ngasih ini buat kalian berdua. Sekali lagi semoga setelah membaca cerita absurd ini, efek mual, pusing dan lainnya tidak hinggap pada kalian berdua. T^T maafkan aku… m(_ _)m *tendang*

Salam, Zapuza.

image

Barokalloh…